Tag: energi terbarukan

  • Keberlanjutan Masuk Inti Strategi Korporasi, Daya Saing Jadi Tolok Ukur Baru

    Keberlanjutan Masuk Inti Strategi Korporasi, Daya Saing Jadi Tolok Ukur Baru

    Perubahan cara pandang dunia usaha terhadap strategi sustainability bisnis kian terasa di Jakarta. Keberlanjutan tidak lagi diposisikan sebatas program lingkungan atau tanggung jawab sosial, melainkan masuk ke dalam perencanaan bisnis agar perusahaan lebih efisien dan mampu bersaing dalam jangka panjang. Integrasi prinsip people, planet, dan profit dinilai menjadi penentu kemampuan korporasi menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga pertumbuhan yang stabil.

    Pergeseran itu dibahas dalam Executive Talkshow bertajuk Sustainability Is Business: From Urgency to Competitive Advantage yang digelar PPM School of Management di Jakarta. Acara tersebut menghadirkan pembicara dari pemerintah dan pelaku industri yang menekankan bahwa agenda keberlanjutan harus selaras dengan tujuan bisnis, bukan berdiri terpisah dari operasional harian.

    Pemerintah dorong transisi energi dan industri hijau

    Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung menegaskan isu besar nasional terkait energi baru terbarukan. Di ranah korporasi, peran perusahaan adalah menempatkan sustainability sebagai tujuan operasional. Perusahaan, menurutnya, bergerak menuju profit, people, dan planet secara bersamaan.

    Yuliot menambahkan bahwa transisi energi dan transformasi industri menjadi bagian penting agenda pembangunan ekonomi Indonesia. Pemerintah mendorong kebijakan yang mencakup ketahanan energi, hilirisasi sumber daya alam, investasi, pengembangan industri hijau, serta kolaborasi erat antara pemerintah dan dunia usaha. Bagi pelaku bisnis di Jakarta dan kawasan sekitarnya, arah kebijakan itu menjadi rujukan saat merancang investasi dan rantai pasok yang lebih ramah lingkungan.

    Transformasi internal wajib bagi korporasi

    Dari sisi pelaku usaha energi, Direktur Perencanaan Strategis dan Pengembangan Bisnis Pertamina New & Renewable Energy Harsono Budi menilai penerapan sustainability menuntut perubahan cara mengelola perusahaan. Alokasi investasi, pengukuran dampak, dan penyesuaian organisasi perlu diselaraskan agar keberlanjutan tidak hanya menjadi slogan.

    Ia menekankan sustainability harus menjadi bagian dari proses bisnis. Dengan cara itu, manfaat ekonomi dan lingkungan dapat berjalan beriringan. Pendekatan ini relevan bagi perusahaan yang beroperasi di ibu kota maupun yang memiliki kantor pusat di Jakarta, karena tekanan efisiensi dan standar pelaporan semakin tinggi.

    Efisiensi operasional lewat perbaikan menyeluruh

    VP Tatalogam Lestari Group of Companies Nicolas Bagus Setiabudi menyampaikan bahwa penerapan sustainability dapat memberi dampak langsung pada efisiensi jika perbaikan dilakukan secara menyeluruh. Agenda keberlanjutan tidak otomatis menjadi beban biaya tambahan. Sebaliknya, ruang penghematan dapat terbuka dan kinerja bottom line perusahaan berpeluang meningkat.

    Pendekatan holistik tersebut mencakup perbaikan proses, penggunaan sumber daya yang lebih hemat, serta pengukuran hasil yang terukur. Bagi industri manufaktur dan rantai pasok yang terhubung dengan pasar Jakarta, efisiensi energi dan material menjadi salah satu jalan praktis mengaitkan target lingkungan dengan hasil keuangan.

    Daya saing jangka panjang di tengah tekanan pasar

    Diskusi di Jakarta menegaskan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan sustainability ke dalam strategi bisnis lebih siap menghadapi tuntutan investor, mitra dagang, dan regulasi. Ketahanan energi, hilirisasi, serta industri hijau menjadi kerangka yang mendorong dunia usaha menata ulang investasi dan kolaborasi.

    Bagi pembaca dan pelaku usaha di wilayah Jakarta, pesan utamanya jelas: keberlanjutan yang tertanam dalam operasional harian dapat memperkuat posisi kompetitif tanpa mengorbankan profitabilitas. Kolaborasi pemerintah–korporasi, penyesuaian organisasi, dan perbaikan proses menjadi prasyarat agar agenda people–planet–profit benar-benar menghasilkan nilai jangka panjang.

    Dengan menempatkan sustainability sebagai strategi—bukan sekadar pelengkap—korporasi diharapkan mampu menjaga pertumbuhan sambil menjawab isu energi dan lingkungan yang menjadi prioritas nasional. Forum PPM School of Management tersebut menjadi cermin bahwa urgensi sudah bergeser menjadi keunggulan kompetitif yang harus dikelola secara serius.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: sustainability bisnis, daya saing korporasi, transisi energi, industri hijau, PPM School of Management, Jakarta, energi terbarukan, efisiensi perusahaan

  • Skala Raksasa Energi Surya 100 GWp Diarahkan Perkuat Swasembada Listrik RI

    Skala Raksasa Energi Surya 100 GWp Diarahkan Perkuat Swasembada Listrik RI

    Program PLTS 100 GWp kembali menjadi sorotan di Jakarta sebagai langkah konkret pemerintah mempercepat transisi energi dan mendorong swasembada listrik. Peluncuran inisiatif ini dinilai bukan sekadar penambahan kapasitas, melainkan fondasi bagi ketahanan serta kemandirian energi nasional dalam jangka panjang.

    Pada tahap awal, sebanyak 14 proyek digarap dengan total kapasitas 5.300 megawatt peak (MWp). Angka tersebut menandai komitmen membangun infrastruktur energi terbarukan berskala besar, sekaligus mengoptimalkan potensi sinar matahari yang melimpah di dalam negeri.

    Momentum Transisi dan Pengurangan Ketergantungan Fosil

    Inisiatif PLTS berskala gigawatt diposisikan sebagai jawaban atas kebutuhan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Pemanfaatan listrik bersih diharapkan ikut menopang pertumbuhan ekonomi serta kebutuhan industri yang semakin menuntut pasokan ramah lingkungan.

    Dengan mengedepankan sumber daya domestik, program ini membuka peluang menekan penggunaan bahan bakar minyak dalam pembangkitan. Di sisi lain, elektrifikasi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) berpeluang diperluas melalui pasokan yang lebih merata dan berkelanjutan.

    Pandangan Pakar soal Transformasi Sistem Kelistrikan

    Kepala Pusat Energi dan Pangan INDEF, Abra Talattov, menekankan bahwa manfaat besar hanya akan terwujud jika pembangunan PLTS dirancang sebagai bagian dari transformasi sistem kelistrikan secara utuh. Penambahan kapasitas semata, tanpa pembenahan sistem, dinilai belum cukup.

    Menurutnya, pengembangan surya skala besar harus selaras dengan proyeksi pertumbuhan permintaan listrik, kondisi sistem di tiap wilayah, kesiapan jaringan, serta tahapan penambahan pembangkit yang tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Perencanaan terukur menjadi kunci agar kapasitas baru benar-benar optimal bagi sistem nasional.

    Dampak bagi Industri dan Pasokan Listrik Hijau

    Bagi kawasan industri di sekitar Jakarta dan wilayah lain, ketersediaan listrik hijau menjadi daya tarik investasi. Pasokan dari PLTS dapat membantu pelaku usaha memenuhi standar keberlanjutan sekaligus menekan risiko fluktuasi harga energi fosil.

    Perluasan pemanfaatan energi surya juga dinilai mendukung target swasembada energi yang dicanangkan pemerintah. Infrastruktur terbarukan dalam volume besar menjadi bukti penerjemahan kebijakan ke ranah pelaksanaan di lapangan.

    Prasyarat Keberhasilan di Tingkat Nasional

    Keberhasilan program tidak lepas dari sinkronisasi antara pusat dan daerah, termasuk kesiapan transmisi serta distribusi. Tanpa jaringan yang memadai, lonjakan kapasitas surya berisiko tidak terserap sempurna ke sistem.

    Abra mengingatkan bahwa keselarasan dengan RUPTL dan kondisi regional harus dijaga agar investasi tidak sia-sia. Dengan pendekatan menyeluruh, PLTS 100 GWp berpeluang menjadi tulang punggung ketahanan energi Indonesia sekaligus mempercepat decarbonisasi sektor ketenagalistrikan.

    Bagi pembaca di Jakarta, arah kebijakan ini relevan karena ibu kota dan kawasan penyangga membutuhkan kepastian pasokan listrik yang stabil untuk aktivitas ekonomi harian. Transisi yang terencana diyakini memberi kepastian jangka panjang bagi rumah tangga maupun dunia usaha.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: PLTS 100 GWp, energi surya, ketahanan energi, transisi energi, swasembada listrik, RUPTL, energi terbarukan, INDEF