Tag: Jakarta Selatan

  • Kenangan Thalita Latief soal Ayah: Selalu Bikin Tertawa hingga di Rumah Sakit

    Kenangan Thalita Latief soal Ayah: Selalu Bikin Tertawa hingga di Rumah Sakit

    Duka menyelimuti keluarga aktris Thalita Latief setelah kepergian ayahnya, Riki Isman, yang meninggal dunia pada Rabu, 9 September 2026, di usia 67 tahun. Di tengah rasa kehilangan itu, Thalita justru mengangkat sisi hangat sang ayah yang kerap menjadi sumber tawa keluarga, termasuk saat ia ditemui di area pemakaman TPU Jeruk Purut, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026).

    Bagi warga Jakarta yang mengikuti kabar selebritas tanah air, nama Thalita Latief sudah akrab di layar kaca. Kini, ia membagikan potret pribadi sang ayah sebagai pria yang ringan tangan melempar candaan dan tetap berjiwa muda di hadapan anak serta keponakannya.

    Sosok yang Gemar Melucu Meski Sakit

    Thalita menggambarkan ayahnya sebagai pribadi yang senang bercanda dan terkadang asal bunyi demi mencairkan suasana. Kebiasaan itu tidak hilang meski Riki Isman sempat menjalani perawatan intensif pascaoperasi besar. Ia masih berusaha menghibur orang-orang di sekitar ranjang rumah sakit.

    Menurut Thalita, kenangan paling indah justru muncul dari momen-momen ringan itu. Bukan dari pesan formal, melainkan dari tingkah ayahnya yang membuat keluarga tertawa di saat-saat sulit. Hubungan di rumah pun terasa lebih cair berkat karakter tersebut.

    Tidak Ada Pesan Khusus di Ruang ICU

    Menjelang akhir hayat, kondisi fisik Riki Isman terus menurun di ruang ICU. Thalita mengakui sang ayah tidak sempat menitipkan pesan khusus. Fokusnya lebih pada cara beliau tetap hadir lewat humor, meski tubuhnya melemah.

    Hal itu disampaikan Thalita langsung di lokasi pemakaman di Jakarta Selatan. Ia menekankan bahwa jejak paling berharga yang ditinggalkan adalah suasana riang yang diciptakan ayahnya, bukan kata-kata perpisahan yang panjang.

    Tempat Istimewa di Hati Para Keponakan

    Sepupu Thalita, Carina Latief, yang mendampingi prosesi, membenarkan kedekatan almarhum dengan generasi muda dalam keluarga. Riki Isman dikenal senang bergaul bersama keponakan-keponakannya dan punya tempat tersendiri di hati mereka.

    Karakter berjiwa muda itu membuat jarak antar-generasi terasa tipis. Bagi keluarga besar, kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit digantikan, terutama karena kebiasaan beliau yang selalu meramaikan pertemuan keluarga.

    • Riki Isman meninggal Rabu, 9 September 2026, usia 67 tahun
    • Pemakaman berlangsung di TPU Jeruk Purut, Cilandak, Jakarta Selatan
    • Thalita Latief dan kerabat hadir pada Kamis, 10 September 2026
    • Almarhum dikenang sebagai humoris dan dekat dengan keponakan

    Suasana Duka di TPU Jeruk Purut Jakarta

    Lokasi pemakaman di kawasan Cilandak menjadi titik berkumpul keluarga dan kerabat dekat. Thalita tampak menahan duka sambil tetap berbagi cerita positif tentang ayahnya kepada awak media yang hadir di lokasi.

    Bagi pembaca di Jakarta, kisah ini mengingatkan bahwa figur publik pun menyimpan sisi keluarga yang sangat manusiawi. Kehilangan orang tua selalu terasa berat, namun kenangan manis dapat menjadi penopang di masa berduka.

    Thalita Latief, yang juga dikenal sebagai mantan istri Dennis Rizky, memilih menonjolkan sisi hangat ayahnya alih-alih hanya menampilkan kesedihan. Pendekatan itu memberi warna tersendiri pada pemberitaan duka selebritas di ibu kota.

    Hingga prosesi selesai, keluarga besar tetap menjaga suasana khidmat. Kenangan tentang lelucon dan tawa Riki Isman diperkirakan akan terus dikenang di lingkaran terdekat Thalita Latief dan para kerabatnya di Jakarta.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: Thalita Latief, Riki Isman, pemakaman Jeruk Purut, duka selebritas, Jakarta Selatan, keluarga artis, kenangan ayah

  • Penataan Kabel Utilitas Jakarta: Pramono Pacu SJUT Lima Tahun

    Penataan Kabel Utilitas Jakarta: Pramono Pacu SJUT Lima Tahun

    Wajah jalanan ibu kota masih diwarnai jalinan kabel utilitas Jakarta yang menggantung di tiang dan tepi trotoar. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan komitmen merapikan jaringan itu dengan memindahkan sekitar 6.500 kilometer kabel permukaan ke bawah tanah, didukung payung hukum terbaru dan kerja sama swasta.

    Pernyataan tersebut disampaikan di Jalan Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, pada Kamis, 10 September 2026. Bagi warga Jakarta, isu ini menyentuh keselamatan, estetika kota, serta kenyamanan pejalan kaki yang sering terganggu kabel longgar di kawasan padat.

    Payung hukum SJUT sudah tersedia

    Pramono menjelaskan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini memiliki landasan formal melalui Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2025. Aturan itu mengatur penataan sarana jaringan utilitas terpadu atau SJUT agar pemindahan kabel berjalan terkoordinasi, bukan sporadis.

    Dengan Perda tersebut, Dinas Bina Marga dapat merancang tahapan teknis bersama badan usaha swasta. Model kolaborasi ini diharapkan mempercepat pekerjaan tanpa menumpuk seluruh beban pada anggaran daerah saja, sambil menjaga standar keamanan instalasi bawah tanah.

    Prioritas komunikasi sebelum listrik

    Penataan mencakup dua jenis jaringan: kabel komunikasi dan kabel listrik. Saat ini, jalur komunikasi dinilai lebih siap diturunkan. Kabel listrik masih memerlukan persiapan teknis lanjutan sehingga waktunya lebih panjang.

    Di sejumlah titik, langkah awal sudah terlihat. Salah satu contoh yang disebut berhasil dirapikan adalah kawasan Jalan Dr Soepomo. Pramono meminta Kepala Dinas Bina Marga bersama BUMD terkait menyusun perencanaan jangka panjang agar penanganan tidak berhenti pada proyek spot, melainkan sistemik di seluruh wilayah DKI.

    Skala 6.500 kilometer dan target lima tahun

    Panjang jaringan yang harus ditangani diperkirakan mencapai sekitar 6.500 kilometer. Angka itu menegaskan bahwa pekerjaan bersifat masif dan bertahap. Gubernur menargetkan seluruh kabel di permukaan dapat tertangani dalam kurun lima tahun, dengan evaluasi berkala agar target realistis.

    Jika pemindahan berjalan konsisten, Pramono menilai wajah Jakarta akan berubah signifikan: tiang lebih rapi, risiko kabel putus berkurang, dan ruang publik lebih tertib. Untuk pembaca di Jakarta, perubahan itu relevan di koridor utama maupun gang padat yang selama ini penuh utilitas overhead.

    • Payung hukum: Perda Nomor 8 Tahun 2025 tentang SJUT
    • Pelaksana: Dinas Bina Marga bersama badan usaha swasta dan BUMD
    • Prioritas awal: kabel komunikasi
    • Skala: sekitar 6.500 km jaringan permukaan
    • Horizon waktu: bertahap hingga lima tahun

    Dampak bagi warga dan tata kota Jakarta

    Penataan utilitas bawah tanah bukan sekadar soal kerapian visual. Di ibu kota, kabel semrawut kerap menjadi keluhan terkait potensi gangguan lalu lintas pejalan kaki, risiko saat hujan lebat, serta citra kawasan bisnis dan permukiman. Integrasi SJUT diharapkan mengurangi tumpang tindih galian berulang di jalan yang sama.

    Keberhasilan program bergantung pada disiplin perencanaan, kesiapan teknis listrik, serta koordinasi operator telekomunikasi. Pemprov menekankan pendekatan bertahap agar layanan komunikasi dan listrik tetap stabil selama proses migrasi ke jalur bawah tanah.

    Dengan kerangka Perda, target lima tahun, dan pembagian peran swasta–pemerintah, agenda merapikan kabel utilitas Jakarta memasuki fase yang lebih terukur. Publik dapat menyimak realisasi di lapangan, mulai dari koridor yang sudah dirapikan hingga perluasan ke wilayah lain secara bertahap.

    Sumber: Liputan6.

    Tag: kabel utilitas Jakarta, Pramono Anung, SJUT DKI, Perda 8 2025, Dinas Bina Marga, kabel semrawut, Jakarta Selatan, penataan kota

  • Kunjungan BPS ke Widya Chandra: Muzani Soroti Peran Data bagi Arah Pembangunan

    Kunjungan BPS ke Widya Chandra: Muzani Soroti Peran Data bagi Arah Pembangunan

    Proses Sensus Ekonomi 2026 menyentuh langsung lingkungan pejabat negara di ibu kota. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani menerima petugas Badan Pusat Statistik (BPS) di rumah dinasnya di kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, pada Jumat, 28 Agustus 2026. Kehadiran tim pendata itu menegaskan bahwa pemutakhiran profil kegiatan ekonomi tidak hanya menyasar pelaku usaha kecil, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat, termasuk keluarga pejabat.

    Bagi pembaca di Jakarta, momen ini relevan karena sensus berlangsung di wilayah metropolitan yang padat aktivitas bisnis, jasa, dan rumah tangga. Data yang terkumpul akan menjadi acuan perencanaan pusat maupun daerah, termasuk DKI Jakarta yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi nasional.

    Pendampingan Kepala BPS di rumah dinas

    Kunjungan ke kediaman dinas Ketua MPR tidak dilakukan sembarangan. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mendampingi petugas lapangan saat memutakhirkan profil aktivitas ekonomi keluarga Muzani. Langkah tersebut memberi sinyal bahwa lembaga statistik menempatkan akurasi dan keterlibatan pejabat publik sebagai bagian dari sosialisasi sensus.

    Dalam kesempatan itu, Muzani menyampaikan bahwa ia, sebagai warga negara, menjawab pertanyaan seputar jumlah anggota keluarga serta jenis usaha yang dijalankan keluarga atau anggota keluarga. Seluruh rangkaian wawancara, menurutnya, berjalan lancar dan tertib.

    Transparansi responden sebagai kunci potret ekonomi

    Ketua MPR menekankan keterbukaan informasi dari setiap responden. Tanpa kejujuran data rumah tangga dan unit usaha, potret kegiatan ekonomi nasional sulit terukur secara utuh. Ia menjelaskan bahwa keterangan terkait usaha keluarga telah disampaikan sesuai kapasitas yang dimiliki, tanpa menutupi fakta yang relevan bagi pendataan.

    Pendekatan transparan ini penting agar BPS dapat memetakan spektrum aktivitas ekonomi—dari skala rumah tangga hingga dunia usaha formal. Di kota besar seperti Jakarta, keragaman jenis usaha sangat tinggi, sehingga partisipasi jujur dari responden pejabat maupun warga biasa sama-sama menentukan kualitas hasil sensus.

    Data akurat sebagai fondasi kebijakan pembangunan

    Muzani menempatkan ketersediaan basis data ekonomi yang andal sebagai fondasi utama perumusan arah kebijakan pembangunan. Angka yang valid membantu pemerintah menilai sektor mana yang tumbuh, mana yang perlu dukungan, serta bagaimana alokasi sumber daya dapat lebih tepat sasaran.

    Ia mengingatkan bahwa kebijakan tanpa tumpuan data berisiko meleset dari kebutuhan riil masyarakat. Sensus Ekonomi 2026 dipandang sebagai instrumen strategis untuk memperbarui gambaran struktur ekonomi Indonesia, termasuk kontribusi rumah tangga pejabat yang turut dicatat secara administratif.

    • Pemutakhiran jumlah dan komposisi keluarga
    • Identifikasi jenis usaha yang digeluti anggota keluarga
    • Penguatan basis data bagi perencanaan pembangunan nasional

    Makna simbolik bagi warga ibu kota

    Keikutsertaan Ketua MPR dalam Sensus Ekonomi 2026 memberi contoh partisipatif di lingkungan pejabat negara. Bagi warga Jakarta Selatan dan sekitarnya, kehadiran petugas BPS di kawasan Widya Chandra dapat mendorong kesadaran bahwa sensus menyentuh semua alamat, bukan hanya pusat perdagangan atau kawasan industri.

    Dengan proses yang dijalani secara terbuka, Muzani ingin menegaskan bahwa angka statistik bukan sekadar laporan teknis. Data yang terkumpul akan memengaruhi keputusan publik di masa depan, mulai dari perencanaan investasi hingga penyesuaian program sosial-ekonomi di tingkat nasional dan daerah.

    Sebagai penutup, partisipasi pejabat tinggi negara dalam Sensus Ekonomi 2026 memperkuat legitimasi pendataan BPS. Harapannya, semakin banyak responden di Jakarta dan wilayah lain yang menjawab lengkap sehingga potret ekonomi Indonesia semakin akurat dan bermanfaat bagi perumusan kebijakan.

    Sumber: Sindo News.

    Tag: Sensus Ekonomi 2026, Ahmad Muzani, BPS, Widya Chandra, data ekonomi, Jakarta Selatan, kebijakan pembangunan, MPR RI