Tag: Kabupaten Bogor

  • SRT Jasinga Bogor Tampung 1.080 Siswa Desil Rendah lewat MPLS

    SRT Jasinga Bogor Tampung 1.080 Siswa Desil Rendah lewat MPLS

    Program Sekolah Rakyat Bogor memasuki fase pemanfaatan setelah kawasan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Kabupaten Bogor di Jasinga mulai menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Sebanyak 1.080 siswa dari keluarga desil 1 dan desil 2—kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah—disiapkan menempati fasilitas pendidikan terpadu tersebut. Bagi pembaca di Jakarta dan sekitarnya, kehadiran sekolah berasrama di wilayah penyangga ini relevan karena menyinggung akses pendidikan bagi anak dari keluarga rentan di kawasan Jabodetabek.

    Kawasan seluas 6,96 hektare itu diselesaikan PT Brantas Abipraya (Persero) dan kini beralih dari tahap konstruksi ke operasional awal. Sekretaris Perusahaan Brantas Abipraya, Dian Sovana, menegaskan bahwa gelaran MPLS menjadi penanda resmi dimulainya pemanfaatan untuk mendukung Program Sekolah Rakyat pemerintah.

    Kapasitas penuh untuk desil kesejahteraan terendah

    Menurut Dian, SRT 1 Kabupaten Bogor dirancang menampung hingga 1.080 siswa, dengan penekanan pada anak dari keluarga desil 1 dan desil 2. Penempatan ini bukan sekadar penambahan kursi belajar, melainkan penyaluran fasilitas lengkap bagi kelompok yang selama ini paling sulit menjangkau pendidikan berkesinambungan.

    Desain sekolah membedakan diri dari model konvensional. Alih-alih hanya gedung kelas, kawasan digarap sebagai ekosistem pendidikan yang menyatukan jenjang SD, SMP, dan SMA dalam satu lokasi terintegrasi. Pendekatan itu dimaksudkan agar siswa tidak terputus rantai pendidikannya hanya karena kendala ekonomi atau jarak tempat tinggal.

    Dua puluh sembilan bangunan dalam satu kawasan perbukitan

    Di dalam lahan tersebut berdiri 29 bangunan. Fasilitas mencakup gedung sekolah tiga jenjang, asrama putra dan putri, asrama guru, gedung serbaguna, tempat ibadah, kantin, lapangan olahraga, serta ruang terbuka hijau. Lokasi berada di perbukitan dengan ketinggian sekitar 161 meter di atas permukaan laut.

    Keberadaan asrama disebut sebagai elemen kunci. Program Sekolah Rakyat memang menyasar anak dari keluarga yang membutuhkan, sehingga tempat tinggal di lingkungan sekolah menjadi bagian tak terpisahkan dari akses pendidikan itu sendiri. Tanpa asrama, jarak dan biaya harian sering kali menjadi penghalang tetap masuk sekolah.

    Lebih dari ruang kelas: karakter dan keterampilan

    Dian menekankan harapan agar sekolah tidak berhenti pada kegiatan belajar-mengajar formal. Kawasan diharapkan menjadi ruang pengembangan karakter, keterampilan, dan potensi diri siswa. Kelengkapan fasilitas penunjang sehari-hari dinilai menentukan kualitas lingkungan tumbuh kembang peserta didik.

    Pembangunan SRT 1 tidak hanya mengejar standar konstruksi, tetapi juga memastikan fasilitas dapat langsung dipakai. Kualitas ruang belajar, area bersama, dan sarana pendukung dinilai krusial agar manfaat sosial proyek terasa sejak hari pertama operasional.

    • Gedung SD, SMP, dan SMA dalam satu kawasan
    • Asrama siswa putra-putri serta asrama guru
    • Gedung serbaguna, tempat ibadah, kantin, dan lapangan olahraga
    • Ruang terbuka hijau di lahan 6,96 hektare

    Manfaat sosial setelah konstruksi selesai

    Bagi Brantas Abipraya, selesainya pekerjaan fisik bukan akhir tanggung jawab. Perusahaan menekankan bahwa infrastruktur yang dibangun harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Penyelesaian SRT 1 Kabupaten Bogor disyukuri karena kawasan sudah mulai dimanfaatkan publik, bukan hanya tercatat sebagai capaian teknis proyek.

    Ke depan, Brantas Abipraya menyatakan akan terus mengerjakan infrastruktur sejenis yang berorientasi nilai sosial—tepat mutu, tepat waktu, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat dalam mendukung pembangunan yang berdaya saing. Bagi warga Jakarta yang mengikuti isu pemerataan pendidikan di wilayah penyangga, model sekolah terpadu berasrama di Bogor menjadi contoh konkret upaya menjangkau kelompok desil terendah tanpa memisahkan jenjang belajar.

    Dengan MPLS sebagai gerbang awal, SRT 1 di Jasinga memasuki tahap ujian sesungguhnya: memastikan 1.080 siswa mendapatkan lingkungan aman, lengkap, dan mendukung perkembangan jangka panjang. Pemanfaatan kawasan ini diharapkan mempertegas arah Program Sekolah Rakyat sebagai instrumen akses, bukan sekadar penambahan gedung.

    Sumber: Republika.

    Tag: Sekolah Rakyat Bogor, SRT Jasinga, MPLS Bogor, desil 1 dan 2, Brantas Abipraya, pendidikan berasrama, Kabupaten Bogor, pemerataan pendidikan