Tag: karhutla Sumsel

  • Karhutla OKI Belum Padam, BNPB Kerahkan Ribuan Personel dan Helikopter

    Karhutla OKI Belum Padam, BNPB Kerahkan Ribuan Personel dan Helikopter

    Pernyataan resmi di Jakarta mengonfirmasi bahwa penanganan karhutla OKI Sumsel menjadi fokus utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Api di Kabupaten Ogan Komering Ilir belum sepenuhnya padam, sementara titik asap masih terpantau di sejumlah lokasi. Kondisi itu membuat satgas terus memperkuat operasi darat maupun udara.

    Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjelaskan bahwa OKI dipilih sebagai wilayah prioritas karena api belum tuntas dan beberapa titik asap masih aktif. Pemantauan serupa juga dilakukan di Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim agar sebaran api tidak meluas.

    Jumlah titik api dan luas lahan terbakar

    Data terbaru mencatat terdapat 21 titik api di Sumatera Selatan dengan total lahan terbakar mencapai 92,5 hektare. Angka tersebut mencakup sebaran di OKI serta wilayah pantauan lain yang masih menunjukkan asap. Petugas menekankan bahwa pengendalian harus cepat agar asap tidak memperburuk kualitas udara di sekitar lokasi.

    Hingga saat ini, gabungan satgas baru berhasil memadamkan lebih dari 24 hektare dari total lahan yang terbakar. Artinya, sebagian besar area masih memerlukan perhatian intensif. Keterbatasan jarak pandang akibat asap tebal menjadi hambatan utama dalam mempercepat laju pemadaman.

    Operasi darat melibatkan ribuan personel

    Satgas darat mengerahkan 11.026 personel untuk memadamkan api di lapangan. Dari upaya tersebut, sekitar 13 hektare lahan berhasil dikendalikan. Personel bekerja di medan yang sulit, termasuk area dengan akses terbatas dan asap yang menyulitkan pergerakan.

    Koordinasi antarinstansi terus diperkuat agar distribusi tenaga dan peralatan merata. Kehadiran personel dalam jumlah besar dinilai krusial untuk menjaga agar titik-titik api yang sudah diredam tidak kembali menyala, terutama di lahan gambut yang rentan.

    Water bombing dan keterbatasan waktu terbang

    Di udara, empat helikopter water bombing beroperasi selama 8 jam 11 menit. Armada itu menjatuhkan 704.000 liter air dan berhasil memadamkan sekitar 10,5 hektare lahan. Namun, asap tebal memangkas jarak pandang serta mempercepat berkurangnya cahaya matahari, sehingga jendela waktu penerbangan menjadi lebih sempit.

    Keterbatasan itu membuat satgas udara harus memilih target dengan cermat. Setiap sorti penerbangan diarahkan ke titik yang dinilai paling berisiko menyebar, sambil tetap mempertimbangkan keselamatan kru dan efektivitas volume air yang dijatuhkan.

    Modifikasi cuaca tebar seribu kilogram garam

    Selain pemadaman fisik, BNPB menjalankan teknologi modifikasi cuaca. Satu unit armada udara menebarkan 1.000 kilogram garam selama lebih dari dua jam. Operasi tersebut menghasilkan hujan berintensitas ringan di area penyemaian, yang diharapkan membantu melembapkan lahan dan menekan potensi api baru.

    Pendekatan gabungan darat, udara, dan rekayasa cuaca dinilai penting bagi pembaca di Jakarta yang memantau dampak asap lintas wilayah. Meski pusat kebakaran berada di Sumsel, informasi resmi dari ibu kota menjadi rujukan publik untuk memahami skala respons pemerintah.

    BNPB menegaskan pemantauan di OKI, Banyuasin, dan Muara Enim akan terus berlanjut hingga titik asap benar-benar terkendali. Evaluasi harian terhadap luas lahan tersisa dan efektivitas water bombing menjadi dasar penyesuaian taktikal di lapangan.

    Sumber: Liputan6.

    Tag: karhutla Sumsel, BNPB, OKI, titik api, water bombing, modifikasi cuaca, asap tebal, pemadaman hutan