Tag: print on demand

  • Apparel Jabar Bertahan di Tengah Tekanan Biaya Produksi Global

    Apparel Jabar Bertahan di Tengah Tekanan Biaya Produksi Global

    Industri apparel Jawa Barat masih dipandang memiliki ruang tumbuh yang cukup lebar di tengah persaingan harga produksi yang makin ketat di pasar global. Pelaku usaha di kawasan ini, termasuk yang memasok kebutuhan fashion dan seragam komunitas di wilayah Jabodetabek, mulai menyesuaikan diri dengan permintaan custom printing, print on demand, hingga pola fast fashion.

    Perubahan selera konsumen membuka celah baru bagi pelaku skala menengah dan kecil. Banyak komunitas hobi kini membutuhkan identitas visual lewat jersey atau pakaian bertema event, sehingga volume pesanan berulang meningkat meski ukuran tiap order tidak selalu besar.

    Basis Industri Nasional yang Masih Kuat

    Jawa Barat tetap menjadi salah satu tumpuan industri tekstil dan pakaian jadi nasional. Sejumlah perusahaan besar di wilayah ini sudah menembus pasar ekspor. Namun, tantangan utama datang dari negara-negara yang menawarkan ongkos produksi lebih rendah, antara lain Vietnam dan Bangladesh.

    Menurut Project Manager Moremedia Indonesia, Bryan W Arsaha, industri dalam negeri perlu menekan biaya sekaligus menjaga daya terima produk di pasar. Ia menekankan bahwa permintaan teknologi produksi dan dekorasi pakaian di Bandung masih tinggi, terlihat dari antusiasme peserta pameran yang rutin kembali hadir.

    Tren Custom dan Print on Demand

    Bryan menilai, pada segmen menengah-kecil, lonjakan permintaan justru berasal dari layanan print on demand dan custom printing. Pola ini sejalan dengan fenomena fast fashion yang menuntut siklus desain lebih pendek. Komunitas pelari dan pengendara motor, misalnya, sering mengganti jersey setiap event sehingga demand kostum khusus terus bergerak naik.

    Pola konsumsi seperti itu memberi peluang bagi konveksi, sablon, dan penyedia digital printing di sekitar Bandung untuk melayani order yang lebih fleksibel. Bagi pembaca di Jakarta, tren serupa juga terasa pada kebutuhan seragam komunitas olahraga dan hobi yang banyak dipasok dari rantai produksi Jawa Barat.

    IAPE 2026 dan Pergeseran Teknologi

    Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 digelar di Bandung Convention Centre pada 2–5 September 2026. Founder IAPE, Aulia Sunhandhyka, mencatat bahwa gelaran ini merupakan yang ke-11 sejak 2014. Bryan menambahkan, pembeda utama tiap tahun terletak pada kemajuan teknologi: dari dominasi sablon pada masa awal hingga perkembangan Direct-to-Film dan Direct-to-Garment yang kini semakin matang.

    Ketua KOPI Grafika, Usman Batubara, menyebut kebutuhan teknologi printing masih tumbuh, meski lajunya melambat sekitar 3–4 persen. Pameran diikuti 20 perusahaan berskala nasional dengan lebih dari 40 merek. Produk yang ditampilkan mencakup kain, peralatan sablon, mesin jahit, bordir, DTG, DTF, cutting, heat press, hingga digital printing.

    Dukungan Ekosistem dan Dampak ke Pasar Urban

    Selain pameran, IAPE 2026 menghadirkan live demo, sepuluh sesi Apparel Talk dengan 15 narasumber, serta business matching. Kegiatan ini mendapat dukungan BPD API Provinsi Jabar, DPD PPGI Provinsi Jabar, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jabar, serta Komunitas Sablon Jabar.

    Penyelenggaraan di Bandung diharapkan menjaga posisi kota tersebut sebagai barometer produksi pakaian sekaligus membuka peluang bagi pelaku garment, konveksi, sablon, dan digital printing. Bagi rantai pasok yang berujung ke pasar Jakarta dan sekitarnya, modernisasi mesin dan model bisnis print on demand menjadi penentu daya saing di tengah tekanan harga impor.

    Dengan menggabungkan efisiensi biaya, adopsi teknologi cetak digital, dan respons cepat terhadap komunitas, industri apparel Jawa Barat dinilai masih memiliki fondasi untuk bertahan dan tumbuh secara selektif.

    Sumber: Republika.

    Tag: industri apparel, Jawa Barat, custom printing, IAPE 2026, tekstil Bandung, print on demand, fast fashion, konveksi