Tag: Qadhi Iyadh

  • Cinta Rasulullah Diuji Akhlak: Al-Syifa Jadi Pengingat Umat

    Cinta Rasulullah Diuji Akhlak: Al-Syifa Jadi Pengingat Umat

    Banyak orang merasa dekat dengan Nabi Muhammad SAW lewat shalawat, majelis, dan peringatan Maulid. Namun kedekatan itu patut diuji ketika kejujuran belum menjadi kebiasaan, amanah masih dilalaikan, dan perbedaan sering dijawab dengan kebencian. Dalam perenungan itu, kitab Al-Syifa kembali relevan sebagai rujukan agar cinta kepada Rasulullah tidak berhenti di emosi.

    Portal Harian Nusantara merangkum gagasan yang mengemuka dari pembahasan karya Qadhi Iyadh berjudul Al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Musthafa. Intinya sederhana namun menantang: mencintai Nabi berarti menempuh jalan moral—cara berbicara, bersikap, dan memperlakukan sesama—bukan sekadar meramaikan simbol keagamaan.

    Ma’rifah membuka pintu mahabbah yang bertanggung jawab

    Cinta yang utuh mustahil tumbuh tanpa pengenalan yang benar. Ma’rifah atau pengetahuan tentang pribadi dan risalah Nabi menjadi pintu menuju mahabbah. Dari situ diharapkan lahir ta’zhim, penghormatan yang tulus, serta ittiba’, kesediaan meneladani perilaku beliau.

    Konsekuensinya tampak dalam kehidupan sehari-hari. Seorang Muslim yang mengaku mencintai Rasulullah terdorong menjaga kejujuran, memegang amanah, menyayangi sesama, berlaku adil, dan menahan diri dari ucapan yang menyakiti. Frekuensi menyebut nama Nabi atau kemeriahan perayaan saja belum cukup menjadi bukti bila perilaku publik masih jauh dari teladan itu.

    Memuliakan Nabi tanpa menggeser tauhid

    Qadhi Iyadh menekankan proporsi penghormatan. Rasulullah adalah manusia pilihan dan utusan Allah yang paling mulia, namun penghormatan tidak boleh berubah menjadi pengultusan yang menempatkan beliau pada kedudukan ketuhanan. Dalam bingkai Ahlussunnah, prinsipnya sering dirumuskan sebagai memuliakan tanpa mempertuhankan.

    Keseimbangan ini menjaga arah kecintaan. Nabi dimuliakan karena membawa risalah, mengajarkan kebenaran, dan menjadi teladan. Menghormati beliau berarti juga menghormati nilai kejujuran, keadilan, kasih sayang, kesederhanaan, dan tanggung jawab sosial yang beliau wariskan—bukan hanya meramaikan bentuk seremonial.

    Posisi Al-Syifa di antara khazanah pujian dan syama’il

    Umat mengenal beragam karya tentang keutamaan Rasulullah, dari Al-Syama’il al-Muhammadiyyah yang menguraikan sifat dan kebiasaan, hingga Dalā’il al-Khayrāt, al-Barzanji, dan al-Diba’i yang akrab dalam tradisi shalawat serta Maulid. Al-Syifa hadir dengan corak lebih luas: kedudukan Nabi, kewajiban mencintai dan menghormati, tanda penghinaan, serta hak-hak beliau dalam kehidupan umat.

    Dengan cakupan itu, kitab ini tidak berhenti menjadikan Nabi sebagai objek pujian. Ia menempatkan kecintaan pada fondasi pengetahuan, adab, dan tanggung jawab moral. Di tengah keberagamaan yang kadang lebih menonjolkan ekspresi ketimbang substansi, pesan tersebut terasa mendesak untuk dibaca ulang secara tekun.

    Dari banjir informasi ke ujian perilaku di ruang publik

    Informasi keagamaan kini mudah diakses lewat ceramah daring, kutipan hadis, dan kisah viral. Sayangnya, kelimpahan informasi tidak otomatis menumbuhkan akhlak. Di ruang publik masih tampak cacian mengatasnamakan agama, penyebaran kabar yang belum terverifikasi, pemaksaan kehendak, serta perlakuan terhadap perbedaan sebagai ancaman.

    Persoalannya sering bukan ketiadaan pengetahuan, melainkan lemahnya transformasi pengetahuan menjadi perilaku. Umat tahu Nabi jujur, penuh kasih, dan adil; tetapi kejujuran, belas kasih, dan keadilan belum selalu menjadi kebiasaan, termasuk saat memegang amanah atau kekuasaan. Cinta kepada Nabi perlu diuji: apakah membuat seseorang lebih santun, mudah memaafkan, menjaga hak orang lain, dan bertanggung jawab?

    Di Nusantara, kitab Maulid dan shalawat memang lebih populer karena mudah dibaca berjamaah dan menyentuh perasaan. Al-Syifa lebih padat serta argumentatif sehingga menuntut ketekunan. Perbedaan popularitas itu tidak seharusnya menyingkirkannya; justru saat adab publik membutuhkan penguatan, kitab ini dapat mempertemukan kecintaan ritual dengan pembentukan karakter. Untuk pembaca di Jakarta dan kota besar lain, pesan itu relevan agar gairah keagamaan di ruang urban tidak kering dari etika bermuamalah.

    Pada akhirnya, Al-Syifa bagaikan pengingat jalan pulang: dari keberagamaan simbolik menuju penghayatan yang melahirkan akhlak; dari kekaguman belaka menuju kesediaan meneladani; dari cinta yang terucap menuju tanggung jawab yang nyata. Cinta kepada Rasulullah SAW menemukan maknanya ketika pengetahuan, adab, dan perilaku saling menopang dalam kehidupan sehari-hari.

    Sumber: Republika.

    Tag: kitab Al-Syifa, akhlak Nabi, Qadhi Iyadh, cinta Rasulullah, Maulid, tradisi Islam Nusantara, adab publik, keteladanan Nabi