Tabebuya Mekar di Ibu Kota, DKI Siapkan Ribuan Pohon Penghijauan Baru

Written by

in

Pemandangan tabebuya jakarta yang sedang bermekaran kembali menghiasi sejumlah koridor jalan di Ibu Kota. Warna kuning keemasan bunga pohon tersebut muncul seiring puncak musim kemarau, menarik perhatian warga yang melintas, termasuk di kawasan Salemba hingga Kramat, Jakarta Pusat.

Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota (Distamhut) DKI Jakarta, Fajar Sauri, menjelaskan bahwa siklus berbunga ini bersifat tahunan. Biasanya periode tersebut berlangsung dari Agustus hingga Oktober, sejalan dengan cuaca panas dan kering yang memicu pembentukan kuncup secara serentak.

Pemicu Mekar dan Durasi Singkat di Musim Kemarau

Menurut Fajar, pohon dengan nama latin Handroanthus chrysotrichus membutuhkan kondisi stres air atau water stress agar kuncup bunga terbentuk massal. Cuaca panas dan minim curah hujan menjadi faktor alami yang merangsang proses itu.

Masa puncak mekar relatif singkat, hanya sekitar satu hingga dua minggu. Setelah itu bunga berguguran, sehingga hamparan warna di tepi jalan tidak bertahan sepanjang musim. Warga Jakarta yang ingin menikmati suasana tersebut umumnya memanfaatkan momen terbatas ini untuk berjalan-jalan atau berfoto di lokasi yang paling lebat bunganya.

Rencana Penambahan Pohon untuk RTH dan Udara Lebih Bersih

Di tengah fenomena berbunga tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan penanaman tabebuya tambahan. Langkah ini diarahkan untuk memperluas ruang terbuka hijau, menambah vegetasi peneduh, sekaligus mendukung mitigasi polusi udara di kawasan padat penduduk.

Fajar menuturkan fokus penanaman mencakup penataan koridor trotoar baru, revitalisasi median jalan arteri dan kolektor, penghijauan di sekitar fasilitas umum, serta perluasan pohon peneduh di taman kota yang baru dikembangkan. Targetnya memperkuat luasan RTH sekaligus memberi manfaat lingkungan jangka panjang bagi warga ibu kota.

Sebaran Empat Ribu hingga Lima Ribu Pohon di Lima Wilayah

Saat ini populasi tabebuya di Jakarta diperkirakan mencapai 4.000 hingga 5.000 pohon. Tanaman tersebut tersebar di lima wilayah administrasi, mulai dari koridor jalan raya, median, jalur hijau pejalan kaki, hingga taman kota.

Penambahan berikutnya akan dilakukan secara bertahap di lokasi strategis. Selain mempercantik lanskap, penanaman ini dimaksudkan memperkuat struktur vegetasi perkotaan agar lebih tahan terhadap tekanan iklim dan aktivitas padat di Jakarta.

  • Koridor jalan dan median arteri atau kolektor
  • Jalur hijau pedestrian dan trotoar baru
  • Kawasan fasilitas umum dan taman kota

Perawatan Rutin demi Kesehatan dan Ruang Akar

Distamhut tidak hanya menambah jumlah pohon, tetapi juga menjalankan pemeliharaan berkala. Perawatan meliputi pemangkasan dahan mati atau yang mengganggu lalu lintas dan pejalan kaki, penyiraman, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.

Pemprov DKI juga menjaga ruang tumbuh akar dengan mengatur area resapan tanah di sekitar pangkal batang. Langkah itu penting agar perakaran tidak terdesak perkerasan trotoar, sehingga pohon tetap sehat dan stabil tumbuh di lingkungan urban.

Dengan kombinasi penanaman berkelanjutan dan perawatan yang konsisten, tabebuya diharapkan berperan lebih dari sekadar hiasan musiman. Pohon ini diarahkan menjadi bagian vegetasi penghijauan yang mendukung kenyamanan dan kualitas lingkungan Jakarta sepanjang tahun, termasuk bagi pembaca di kawasan padat seperti Jakarta Pusat dan sekitarnya.

Sumber: Liputan6.

Tag: tabebuya jakarta, penghijauan dki, ruang terbuka hijau, polusi udara jakarta, distamhut dki, pohon peneduh, musim kemarau jakarta

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *