Upaya penanganan karhutla di Indonesia memasuki fase yang lebih intensif setelah Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup memaparkan kesiapan operasi darat di Jakarta. Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup KLH/BPLH, Rizal Irawan, menegaskan bahwa kebakaran di enam provinsi prioritas menuntut respons serius, cepat, dan terpadu, bukan lagi sebatas antisipasi rutin.
Konferensi pers bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana digelar Senin, 31 Agustus 2026. Dari ibu kota, pemerintah menyampaikan bahwa fokus utama kini mencakup pengendalian api di lapangan, penanggulangan pencemaran udara, serta pengawasan dan penegakan hukum lingkungan, termasuk isu kabut asap lintas batas.
Situasi bergeser ke pengendalian bersama
Menurut Rizal, kondisi yang dihadapi sudah berubah. Pemerintah dan warga kini bergotong-royong mengendalikan api di sejumlah wilayah rawan. Meski demikian, ia mengakui masih ada kejadian yang dipicu ulah sebagian masyarakat yang memantik api baru di lokasi tertentu.
Ia menekankan perlunya langkah preemtif, preventif, dan represif berjalan beriringan agar dampak asap dan kerusakan lahan tidak meluas. Bagi pembaca di Jakarta, pemaparan ini relevan karena kualitas udara ibu kota kerap terpengaruh pola cuaca dan sebaran polusi dari wilayah lain saat musim kemarau panjang.
95 kelompok MPA di enam wilayah prioritas
KLH telah membentuk 95 kelompok Masyarakat Peduli Api yang tersebar di daerah rawan kebakaran. Rinciannya meliputi 18 kelompok di Sumatera Selatan, 15 di Riau, 9 di Jambi, 18 di Kalimantan Tengah, 15 di Kalimantan Barat, dan 20 di Kalimantan Selatan.
Total personel yang tergabung mencapai 1.425 orang. Pemerintah merencanakan penambahan sekitar 35 kelompok MPA lagi sepanjang 2026 agar jangkauan pemadaman berbasis komunitas semakin merata di titik-titik rawan.
Hibah ribuan sarana pemadam untuk jalur darat
Selain penguatan tenaga, KLH menghibahkan 3.975 unit sarana dan prasarana kepada kelompok MPA. Bantuan itu ditujukan agar pemadaman di jalur darat lebih cepat dan aman bagi petugas lapangan.
- 500 unit fire rake
- Peralatan fire beater, pompa jinjing, pompa punggung atau jet shooter
- 375 unit selang pemadam, 100 nozzle, dan 75 Y-connector
- 1.125 unit baju safety serta 1.125 pasang sepatu boot
Rangkaian alat tersebut diharapkan memperkuat kapasitas warga terlatih saat api masih dapat dikendalikan di tingkat lokal sebelum meluas ke kawasan hutan dan lahan yang lebih luas.
Tiga fokus kerja dan imbauan kesadaran publik
Rizal merinci tiga penekanan kerja kementerian: penanganan karhutla, pengendalian pencemaran udara, serta pengawasan disertai penegakan hukum lingkungan. Pendekatan ini juga diarahkan untuk menekan risiko kabut asap yang dapat melintasi batas wilayah.
Ia menyayangkan masih adanya oknum yang memulai api meski operasi bersama telah berjalan berbulan-bulan. Harapannya, kesadaran kolektif terus ditingkatkan agar angka kebakaran dan polusi udara menurun. Koordinasi antara KLH, BNPB, pemerintah daerah, dan kelompok MPA dinilai krusial agar respons di lapangan tidak terpecah.
Bagi masyarakat urban di Jakarta, informasi kesiapan nasional ini menjadi pengingat bahwa mitigasi karhutla bersifat lintas wilayah. Dukungan terhadap pelaporan dini, pengurangan aktivitas membakar lahan, serta pemantauan kualitas udara tetap relevan selama musim rawan api berlangsung.
Sumber: Liputan6.

Leave a Reply